Selasa, 25 Oktober 2016

Human Relation dan Komunikasi



PEMBAHASAN
1.      Pengertian Human Relation dan Komunikasi.
          Tidaklah mudah menterjemahkan arti kata “human relation” ke dalam bahasa Indonesia. Hubungan antar manusia dan hubungan kemanusiaan, keduanya merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris human relation. Hubungan antar manusia dengan hubungan kemanusiaan sesungguhnya mempunyai pengertian yang tak sama. Hubungan antar manusia merupakan antar person yang bersifat lahiriah saja, kurang memperhatikan aspek kejiwaan. Sehingga tidak memberikan kepuasan psikologis. Suatu hubungan dikatakan hubungan kemanusiaan, apabila hubungan tersebut dapat memberikan kesadaran dan pengertian. Sehingga pihak lain (yang menerima informasi) merasa puas. Arti manusia dalam relations ini bukan dalam pengertian wujudnya, melainkan sifat-sifat, watak, tingkah laku, atau aspek psikis lainnya pada diri manusia. Sifat hubungannya tidak seperti orang berkomunikasi biasa, melainkan berfokus pada bagaimana metode komunikasi yang dipergunakan mampu memotivasi orang-orang agar terjadi sikap kooperatis, kedisiplinan, etos kerja, produktivitas dan kepuasan bagi kedua belah pihak antara atasan dan bawahan. Dan isi komunikasinya bukan hanya merupakan penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain, tetapi hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu mengandung unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam.[1]
          Sedangkan menurut Sondang P. Siagian (1997), Human Relation adalah keseluruhan hubungan baik yang formal maupun informal yang perlu diciptakan dan dibina dalam suatu organisasi sedemikian rupa sehingga tercipta suatu team work yang harmonis dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Human relation adalah hubungan yang bersifat intern, sedangkan hubungan yang bersifat ekstern disebut “public relation”. Human relation merupakan inti daripada kepemimpinan.[2]
          Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan hubungan manusiawi dalam arti sempit:[3]
a.       Hubungan manusiawi dalam arti luas
Hubungan manusiawi dalam arti luas adalah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja; bisa dilakukan dirumah, dijalan, didalam kendaraan umum (misal bis atau angkutan kota) dan sebagainya.
b.      Hubungan manusiawi dalam arti sempit
Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain. Akan tetapi, interaksi disini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kerja (work organization)
          Human Relation merupakan salah satu dari tiga pendekatan berkomunikasi dalam organisasi. Karena didalam berorganisasi tidak hanya menekankan pada produktivitas dan penyelesaian tugas, akan tetapi meperhatikan masalah perkembangan individu yang ada dalam organisasi tersebut.  
          Sedangkan pengertian komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin communis atau dalam bahasa inggrisnya common berarti sama. Apabila kita berkomunikasi berarti kita dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan suatu persamaan dalam hal sikap dengan seseorang. Jadi pengertian komunikasi secara harfiah adalah proses menghubungi atau mengadakan perhubungan.[4]
          Menurut Kartini Kartono, Komunikasi adalah arus informasi dan emosi-emosi yang terdapat dalam masyarakat yang berlangsung secara vertical (atas-kebawah) maupun secara horizontal. Atau suatu kapasitas individu atau kelompok untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, dan kehendak kepada individu dan kelompok lain. Menurutnya, komunukasi juga sebagai suatu proses penyampaian berita dan ide dari suatu sumber berita ke suatu tempat tujuan. Sumber berita dan tempat tujuan dalam proses komunikasi itu berupa pikiran manusia. Berita-berita yang disampaikan itu misalnya berupa buah pikiran, uraian suatu hal atau kesan-kesan. Wujud berita itu dapat merupakan suatu perintah, permohonan, pertanyaan atau cara-cara pernyataan lainnya.[5]
          Dalam teori lain, komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan ataupun pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan makna. Tindakan komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam beragam konteks. Kita dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks antarpribadi (interpersonal communication), kita bisa pula berbagi pesan dalam konteks kelompok (group communication), dapat juga dalam lingkup organisasi (organizational communication), Berta tindak komunikasi kita denganmemanfaatkan pesan dari media massa (mass communication).
          Dalam komunikasi diperlukan sedikitnya tiga unsur  yaitu sumber (source), berita atau pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber dapat berupa individu atau organisasi komunikasi. Berita atau pesan dapat berupa tulisan, gelombang suara atau komunikasi arus listrik, lambaian tangan, bendera berkibar, atau benda lain yang mempunyai arti. Sasaran dapat berupa seorang pendengar, penonton, pembaca, anggota dari kelompok diskusi, mahasiswa, dan lain-lain.
          Ada 3 model komunikasi dalam bukunya stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss yaitu human communication :
1.      Komunikasi linier, satu arah (one way view of communication) Contoh : teori jarum suntik, “jika saya ingin mempersuasi anda, maka saya menyuntikkan satu dosis persuasi kepada anda, sehingga anda akan lekas sembuh dan melakukan apa yang saya inginkan.” Komunikasi yang mempengaruhi seseorang tanpa feedback.
2.      Komunikasi interaksional, komunikasi yang memberikan feedback atau timbal balik. Dalam hal ini penerima (receiver) melakukan seleksi, interpretasi dan memberikan respons terhadap pesan dari pengirim (sender). Dan sebaliknya. Si penerima bisa menjadi sender sedangkan pengirim bisa menjadi receiver.
3.      Komunikasi transaksional, komunikasi dua orang atau lebih. Komunikasi model ini hampir sama dengan model komunikasi interaksional yaitu sama-sama ada feedback.[6]
2.      Prinsip-Prinsip Human Relation dan Komunikasi dalam Kepemimpinan.
A.    Prinsip Human Relation :[7]
1.      Adanya loyalitas
Adanya loyalitas yang dimaksud disini adalah kesetiaan antara atasan dan bawahan.
Contoh :
a.       Seorang atasan tidak menganggap remeh bawahan.
b.      Seorang bawahan tidak menjelek-jelekan atasannya kepada orang lain
c.       Tidak menceritakan rahasia organisasi terhadap orang lain.
d.      Memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap organisasi.
e.       Tidak menganggap bawahan sebagai mesin karena bawahan juga ingin dihargai, diakui kemampuan dan kemauanya dapat dikembangkan secara teratur sampai tingkat yang maksimal.
f.       Pimpinan mau mengakui dan menghargai pelaksanaan tugas dengan baik oleh bawahan. Bentuk penghargaannya dapat berupa: kenaikan pangkat, kenaikan gaji, hadiah, surat penghargaan atau kombinasi dari beberapa hal tersebut.
2.      Adanya kegairahan kerja
Adanya kegairan kerja adalah akibat dari suasana kerja yang menyenangkan, dilihat dari jenis pekerjaan dan lingkungan kerja.
a.       Bawahan telah menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu karena suasana kerja yang menyenangkan.
b.      Seorang bawahan yang sangat antusias melakukan pekerjaan dari atasan karena lingkungan kerja sangat mendukung, nyaman, dan aman.
3.      Syarat hubungan kerja yang luwes.
Suatu organisasi yang baik adalah suatu organisasi yang dipimpin secara demokratis. Sifat keterbukaan dari organisasi yang demokratis dimanifestasikan terutama oleh hubungan kerja yang informal.
a.       Sifat keterbukaan dari organisasi yang demokratis diterapkan terutama oleh hubungan kerja yang informal tanpa melupakan segi yang formal dari hubungan kerja tersebut.
b.      Dalam melaksanakan tugas yang diberikan tidak terpaku pada prosedur kerja tertentu yang dapat menyebabkan kelambatan dalam menyelesaikan tugas tersebut.
4.      Moral yang tinggi
Moral adalah sesuatu dari dalam diri seseorang yang mendasari orang untuk melakukan kerja. Moral yang tinggi adalah moral yang bersifat positif.
a.       Tidak mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan organisasi.
b.      Menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan organisasi ataupun masyarakat.
5.      Disiplin yang tinggi
Disiplin yang tinggi adalah seseorang dapat tepat waktu dan menempatkan sesuatu secara tepat.
a.       Menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tepat waktu.
b.      Berusaha menghadiri rapat tepat waktu.
c.       Seseorang yang sedang menghadiri suatu rapat dewan direksi harus bisa menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada.
d.      Tidak banyak penyelewengan, merupakan akibat dari moral yang tinggi dan disiplin yang tinggi.
B.     Prinsip Komunikasi :
          American Management Association (AMA) telah menyusun sejumlah orinsip-prinsip komunikasi yang disebut “The Ten Commandments of Good Communication” (sepuluh pedoman komunikasi yang baik) sebagai berikut:[8]
1.      Cari kejelasan gagasan-gagasan terlebih dahulu sebelum dikomunikasikan.
2.      Teliti tujuan sebenarnya setiap komunikasi.
3.      Pertimbangkan keadaan fisik dan manusia keseluruhan kapan saja komunikasi akan dilakukan.
4.      Konsultasikan dengan pihak-pihak lain, bila perlu, dalam perencanaan komunikasi.
5.      Perhatikan tekanan nada dan ekspresi lainnya sesuai isi dasar berita selama berkomunikasi.
6.      Ambil kesempatan, bila timbul, untuk mendapatkan segala sesuatu yang membantu atau umpan balik.
7.      Ikuti lebih lanjut komunikasi yang telah dilakukan.
8.      Perhatikan konsistensi komunikaasi.
9.      Tindakan atau perbuatan harus mendorong komunikasi.
10.  Jadilah pendengar yang baik, berkomunikasi tidak  hanya untuk dimengerti tetapi untuk mengerti.
3.      Fungsi Human Relation dan Komunikasi dalam Kepemimpinan
A.    Fungsi Human Relation dalam Kepemimpinan
          Dalam derajat intensitas yang tinggi, hubungan manusiawi dilakukan untuk menyembuhkan orang yang menderita frustasi. Frustasi timbul pada diri seseorang akibat suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Apabila frustasi itu diderita oleh seorang bawahan, apalagi jika jumlahnya banyak ini akan mengganggu jalannya suatu organisasi sehingga akan menjadi rintangan bagi tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi. Tidaklah bijaksana jika seorang pemimpin menangani bawahan yang frustasi dengan tindakan kekerasan. Di sinilah pentingnya peranan hubungan manusiawi. Dia harus membawa penderita dari problem situation kepada problem solving behaviour.[9]
B.     Fungsi Komunikasi dalam Kepemimpinan
          Kemudian muncul pertanyaan bagaimana mungkin kepemimpinan berjalan dengan efektif jika seorang pemimpin hanya hadir ketika ada rapat rutin yang dilakukan dalam setiap jangka waktu tertentu, sehingga yang terjadi adalah kepemimpinan yang formalistik. Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa menjalankan kepemimpinannya yang efektif jika pemimpin jarang berada di tempat dan ketika kembali yang dibawa bukan suatu “oleh-oleh” yang berharga untuk organisasi atau komunitas yang dipimpinannya melainkan datang dengan membawa kemarahan karena mendapati “bawahannya” tidak menjalankan tugas dengan baik?.
          Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diadakan suatu komunikasi yang efektif sehingga antara atasan dan bawahan dapat saling menghargai dan organisasi akan berjalan dengan baik. Komunikasi, secara langsung akan memberi manfaat kepada tiap individu, di antaranya :[10]
1.      Menghubungkan semua unsur yang melakukan interelasi (hubungan satu sama lain) pada semua lapisan, sehingga menimbulkan rasa kesetiakawanan dan loyalitas antar sesama.
2.      Semua jajaran pimpinan dapat langsung mengetahui keadaan bidang-bidang yang dibawahi.
3.      Meningkatkan rasa tanggungjawab semua anggota, dan melibatkan mereka pada kepentingan organisasi.
4.      Memunculkan saling pengertian dan saling menghargai tugas masing-masing, sehingga meningkatkan rasa kesatuan dan pemantapan esprit de corps (semangat korps).
Menurut Weihric dan Koontz ada 6 fungsi yaitu :[11]
1.      Menetapkan dan menyebarkan tujuan organisasi.
2.      Mengembangkan rencana untuk mencapainya.
3.      Mengorganisasi SDM dari sumber-sumber lain untuk menciptakan cara yang paling efektif dan efisien.
4.      Memilih, mengembangkan, dan menilai anggota-anggota dari organisasi.
5.      Mengarahkan, mengatur, memotivasi, dan menciptakan suatu iklim dimana para komunitas bersedia untuk berkontribusi.
6.      Mengontrol aksi/tindakan/kinerja.


             [4] Imam Moedjiono, ”Kepemimpinan dan Keorganisasian”, (Yogyakarta: UII Press, 2002), hal. 165
             [5] Kartini Kartono, “Pemimpin dan Kepemimpinan”, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 134
             [6] cai.elearning.gunadarma.ac.id/.../download.php?...Teori%20komunikasi... dikutip 04 oktober 2014, 15.24
             [8] http://www.slideshare.net/dhynamardhinool/handout-6-ld, dikutip 04 oktober 2014, 15.26
             [11] Munir Abdullah, ”Menjadi Kepala Sekolah Efektif”, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 44
Share:

BTemplates.com