PEMBAHASAN
1.
Pengertian Human Relation dan Komunikasi.
Tidaklah mudah
menterjemahkan arti kata “human relation” ke dalam bahasa Indonesia. Hubungan
antar manusia dan hubungan kemanusiaan, keduanya merupakan terjemahan dari
istilah bahasa inggris human relation. Hubungan antar manusia dengan hubungan
kemanusiaan sesungguhnya mempunyai pengertian yang tak sama. Hubungan antar
manusia merupakan antar person yang bersifat lahiriah saja, kurang memperhatikan
aspek kejiwaan. Sehingga tidak memberikan kepuasan psikologis. Suatu hubungan
dikatakan hubungan kemanusiaan, apabila hubungan tersebut dapat memberikan
kesadaran dan pengertian. Sehingga pihak lain (yang menerima informasi) merasa
puas. Arti manusia dalam relations ini bukan dalam pengertian wujudnya,
melainkan sifat-sifat, watak, tingkah laku, atau aspek psikis lainnya pada diri
manusia. Sifat hubungannya tidak seperti orang berkomunikasi biasa, melainkan
berfokus pada bagaimana metode komunikasi yang dipergunakan mampu memotivasi
orang-orang agar terjadi sikap kooperatis, kedisiplinan, etos kerja,
produktivitas dan kepuasan bagi kedua belah pihak antara atasan dan bawahan.
Dan isi komunikasinya bukan hanya merupakan penyampaian suatu pesan oleh seseorang
kepada orang lain, tetapi hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi itu
mengandung unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam.[1]
Sedangkan menurut
Sondang P. Siagian (1997), Human Relation adalah keseluruhan hubungan baik yang
formal maupun informal yang perlu diciptakan dan dibina dalam suatu organisasi
sedemikian rupa sehingga tercipta suatu team work yang harmonis dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Human relation adalah hubungan yang
bersifat intern, sedangkan hubungan yang bersifat ekstern disebut “public
relation”. Human relation merupakan inti daripada kepemimpinan.[2]
Ada dua pengertian
hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan hubungan
manusiawi dalam arti sempit:[3]
a.
Hubungan manusiawi dalam arti luas
Hubungan manusiawi dalam arti luas adalah interaksi antara
seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang
kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja; bisa dilakukan
dirumah, dijalan, didalam kendaraan umum (misal bis atau angkutan kota) dan
sebagainya.
b.
Hubungan manusiawi dalam arti sempit
Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara
seseorang dengan orang lain. Akan tetapi, interaksi disini hanyalah dalam
situasi kerja dan dalam organisasi kerja (work organization)
Human Relation
merupakan salah satu dari tiga pendekatan berkomunikasi dalam organisasi.
Karena didalam berorganisasi tidak hanya menekankan pada produktivitas dan
penyelesaian tugas, akan tetapi meperhatikan masalah perkembangan individu yang
ada dalam organisasi tersebut.
Sedangkan pengertian
komunikasi atau communication berasal dari bahasa latin communis atau dalam
bahasa inggrisnya common berarti sama. Apabila kita berkomunikasi berarti kita
dalam keadaan berusaha untuk menimbulkan suatu persamaan dalam hal sikap dengan
seseorang. Jadi pengertian komunikasi secara harfiah adalah proses menghubungi
atau mengadakan perhubungan.[4]
Menurut Kartini
Kartono, Komunikasi adalah arus informasi dan emosi-emosi yang terdapat dalam masyarakat
yang berlangsung secara vertical (atas-kebawah) maupun secara horizontal. Atau
suatu kapasitas individu atau kelompok untuk menyampaikan perasaan, pemikiran,
dan kehendak kepada individu dan kelompok lain. Menurutnya, komunukasi juga
sebagai suatu proses penyampaian berita dan ide dari suatu sumber berita ke
suatu tempat tujuan. Sumber berita dan tempat tujuan dalam proses komunikasi
itu berupa pikiran manusia. Berita-berita yang disampaikan itu misalnya berupa
buah pikiran, uraian suatu hal atau kesan-kesan. Wujud berita itu dapat
merupakan suatu perintah, permohonan, pertanyaan atau cara-cara pernyataan
lainnya.[5]
Dalam teori lain, komunikasi
adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan ataupun pendapat dari
setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan
makna. Tindakan komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam beragam konteks. Kita
dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks antarpribadi (interpersonal
communication), kita bisa pula berbagi pesan dalam konteks kelompok (group
communication), dapat juga dalam lingkup organisasi (organizational
communication), Berta tindak komunikasi kita denganmemanfaatkan pesan dari
media massa (mass communication).
Dalam komunikasi
diperlukan sedikitnya tiga unsur yaitu
sumber (source), berita atau pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber
dapat berupa individu atau organisasi komunikasi. Berita atau pesan dapat
berupa tulisan, gelombang suara atau komunikasi arus listrik, lambaian tangan,
bendera berkibar, atau benda lain yang mempunyai arti. Sasaran dapat berupa
seorang pendengar, penonton, pembaca, anggota dari kelompok diskusi, mahasiswa,
dan lain-lain.
Ada 3 model
komunikasi dalam bukunya stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss yaitu human
communication :
1.
Komunikasi linier, satu arah (one way view of communication) Contoh
: teori jarum suntik, “jika saya ingin mempersuasi anda, maka saya menyuntikkan
satu dosis persuasi kepada anda, sehingga anda akan lekas sembuh dan melakukan
apa yang saya inginkan.” Komunikasi yang mempengaruhi seseorang tanpa feedback.
2.
Komunikasi interaksional, komunikasi yang memberikan feedback atau
timbal balik. Dalam hal ini penerima (receiver) melakukan seleksi, interpretasi
dan memberikan respons terhadap pesan dari pengirim (sender). Dan sebaliknya.
Si penerima bisa menjadi sender sedangkan pengirim bisa menjadi receiver.
3.
Komunikasi transaksional, komunikasi dua orang atau lebih.
Komunikasi model ini hampir sama dengan model komunikasi interaksional yaitu
sama-sama ada feedback.[6]
2.
Prinsip-Prinsip Human Relation dan Komunikasi dalam Kepemimpinan.
A.
Prinsip Human Relation :[7]
1. Adanya
loyalitas
Adanya loyalitas yang dimaksud disini adalah kesetiaan antara
atasan dan bawahan.
Contoh :
a.
Seorang atasan tidak menganggap remeh bawahan.
b.
Seorang bawahan tidak menjelek-jelekan atasannya kepada orang lain
c.
Tidak menceritakan rahasia organisasi terhadap orang lain.
d.
Memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap organisasi.
e.
Tidak menganggap bawahan sebagai mesin karena bawahan juga ingin
dihargai, diakui kemampuan dan kemauanya dapat dikembangkan secara teratur
sampai tingkat yang maksimal.
f.
Pimpinan mau mengakui dan menghargai pelaksanaan tugas dengan baik
oleh bawahan. Bentuk penghargaannya dapat berupa: kenaikan pangkat, kenaikan
gaji, hadiah, surat penghargaan atau kombinasi dari beberapa hal tersebut.
2.
Adanya kegairahan kerja
Adanya kegairan kerja adalah akibat dari suasana kerja yang
menyenangkan, dilihat dari jenis pekerjaan dan lingkungan kerja.
a.
Bawahan telah menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu karena
suasana kerja yang menyenangkan.
b.
Seorang bawahan yang sangat antusias melakukan pekerjaan dari
atasan karena lingkungan kerja sangat mendukung, nyaman, dan aman.
3.
Syarat hubungan kerja yang luwes.
Suatu organisasi yang baik adalah suatu organisasi yang dipimpin
secara demokratis. Sifat keterbukaan dari organisasi yang demokratis
dimanifestasikan terutama oleh hubungan kerja yang informal.
a.
Sifat keterbukaan dari organisasi yang demokratis diterapkan
terutama oleh hubungan kerja yang informal tanpa melupakan segi yang formal
dari hubungan kerja tersebut.
b.
Dalam melaksanakan tugas yang diberikan tidak terpaku pada prosedur
kerja tertentu yang dapat menyebabkan kelambatan dalam menyelesaikan tugas
tersebut.
4.
Moral yang tinggi
Moral adalah sesuatu dari dalam diri seseorang yang mendasari orang
untuk melakukan kerja. Moral yang tinggi adalah moral yang bersifat positif.
a.
Tidak mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan
organisasi.
b.
Menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan organisasi
ataupun masyarakat.
5.
Disiplin yang tinggi
Disiplin
yang tinggi adalah seseorang dapat tepat waktu dan menempatkan sesuatu secara
tepat.
a.
Menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tepat waktu.
b.
Berusaha menghadiri rapat tepat waktu.
c.
Seseorang yang sedang menghadiri suatu rapat dewan direksi harus
bisa menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada.
d.
Tidak banyak penyelewengan, merupakan akibat dari moral yang tinggi
dan disiplin yang tinggi.
B.
Prinsip Komunikasi :
American Management
Association (AMA) telah menyusun sejumlah orinsip-prinsip komunikasi yang
disebut “The Ten Commandments of Good Communication” (sepuluh pedoman
komunikasi yang baik) sebagai berikut:[8]
1.
Cari kejelasan gagasan-gagasan terlebih dahulu sebelum
dikomunikasikan.
2.
Teliti tujuan sebenarnya setiap komunikasi.
3.
Pertimbangkan keadaan fisik dan manusia keseluruhan kapan saja
komunikasi akan dilakukan.
4.
Konsultasikan dengan pihak-pihak lain, bila perlu, dalam
perencanaan komunikasi.
5.
Perhatikan tekanan nada dan ekspresi lainnya sesuai isi dasar
berita selama berkomunikasi.
6.
Ambil kesempatan, bila timbul, untuk mendapatkan segala sesuatu
yang membantu atau umpan balik.
7.
Ikuti lebih lanjut komunikasi yang telah dilakukan.
8.
Perhatikan konsistensi komunikaasi.
9.
Tindakan atau perbuatan harus mendorong komunikasi.
10. Jadilah
pendengar yang baik, berkomunikasi tidak
hanya untuk dimengerti tetapi untuk mengerti.
3.
Fungsi Human Relation dan Komunikasi dalam Kepemimpinan
A.
Fungsi Human Relation dalam Kepemimpinan
Dalam derajat
intensitas yang tinggi, hubungan manusiawi dilakukan untuk menyembuhkan orang
yang menderita frustasi. Frustasi timbul pada diri seseorang akibat suatu
masalah yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Apabila frustasi itu diderita oleh
seorang bawahan, apalagi jika jumlahnya banyak ini akan mengganggu jalannya
suatu organisasi sehingga akan menjadi rintangan bagi tujuan yang hendak
dicapai oleh organisasi. Tidaklah bijaksana jika seorang pemimpin menangani
bawahan yang frustasi dengan tindakan kekerasan. Di sinilah pentingnya peranan
hubungan manusiawi. Dia harus membawa penderita dari problem situation kepada
problem solving behaviour.[9]
B.
Fungsi Komunikasi dalam Kepemimpinan
Kemudian muncul
pertanyaan bagaimana mungkin kepemimpinan berjalan dengan efektif jika seorang
pemimpin hanya hadir ketika ada rapat rutin yang dilakukan dalam setiap jangka
waktu tertentu, sehingga yang terjadi adalah kepemimpinan yang formalistik.
Bagaimana mungkin seorang pemimpin bisa menjalankan kepemimpinannya yang
efektif jika pemimpin jarang berada di tempat dan ketika kembali yang dibawa
bukan suatu “oleh-oleh” yang berharga untuk organisasi atau komunitas yang
dipimpinannya melainkan datang dengan membawa kemarahan karena mendapati
“bawahannya” tidak menjalankan tugas dengan baik?.
Untuk mengatasi
masalah tersebut perlu diadakan suatu komunikasi yang efektif sehingga antara
atasan dan bawahan dapat saling menghargai dan organisasi akan berjalan dengan
baik. Komunikasi, secara langsung akan memberi manfaat kepada tiap individu, di
antaranya :[10]
1.
Menghubungkan semua unsur yang melakukan interelasi (hubungan satu
sama lain) pada semua lapisan, sehingga menimbulkan rasa kesetiakawanan dan
loyalitas antar sesama.
2.
Semua jajaran pimpinan dapat langsung mengetahui keadaan
bidang-bidang yang dibawahi.
3.
Meningkatkan rasa tanggungjawab semua anggota, dan melibatkan
mereka pada kepentingan organisasi.
4.
Memunculkan saling pengertian dan saling menghargai tugas
masing-masing, sehingga meningkatkan rasa kesatuan dan pemantapan esprit de
corps (semangat korps).
Menurut Weihric dan Koontz ada 6 fungsi yaitu :[11]
1.
Menetapkan dan menyebarkan tujuan organisasi.
2.
Mengembangkan rencana untuk mencapainya.
3.
Mengorganisasi SDM dari sumber-sumber lain untuk menciptakan cara
yang paling efektif dan efisien.
4.
Memilih, mengembangkan, dan menilai anggota-anggota dari organisasi.
5.
Mengarahkan, mengatur, memotivasi, dan menciptakan suatu iklim
dimana para komunitas bersedia untuk berkontribusi.
6.
Mengontrol aksi/tindakan/kinerja.










